ARHAMIN KR "Sang Penjelajah"

Lebih Baik Menyalakan Satu Lilin daripada Mengutuk Kegelapan

Moratorium Oslo…Sebuah Anugerah atau musibah???

Moratorium Oslo yang disepakati bersama oleh Negara Indonesia dan Norwegia beberapa bulan yang lalu…menjadi isu hangat di dunia kehutanan saat ini…yang sangat panjang diperdebatkan oleh para regulator, pengusaha, pengamat, akademisi dan sebagainya…apakah nanti akan menjadi anugerah atau musibah bagi dunia kehutanan Indonesia…?

Deklarasi Hijau….

Deklarasi ini pernah diucapkan bersama, disepakati dan ditanda tangani oleh Menteri Kehutanan RI ketika itu (M S Kaban), Wkl Rektor IPB (Prof Dr Ir Yonni K), BEM E IPB, dan beberapa LSM Lingkungan…Semoga Senantiasa ingat akan apa yg pernah diperjuangkan bersama…hingga akhirnya deklarasi ini pun terwujud…

DEKLARASI HIJAU

SELAMATKAN LINGKUNGAN

HARI PENANGGULANGAN DEGRADASI LAHAN & KEKERINGAN SEDUNIA

Bahwa sesungguhnya kelangsungan hidup manusia yang bebas dari ancaman degradasi lahan dan kekeringan adalah hak generasi mendatang. Oleh karena itu, segala bentuk pengrusakan hutan dan lingkungan hidup di muka bumi harus dihapuskan. Dan juga memahami bahwa melindungi tanah dan air dalam arti yang sesungguhnya, berarti juga menjaga masa depan kita bersama. Memaknai hal itu, maka kami segenap komponen yang tergabung dalam Forum Hijau hari ini mendeklarasikan sikap kami sebagai bentuk pertanggungjawaban untuk generasi mendatang ;

  1. Menentang segala bentuk pengrusakan hutan dan lingkungan hidup di seluruh wilayah NKRI
  2. Menyerukan kepada seluruh komponen kekuatan bangsa agar memberikan perhatian yang sungguh – sungguh terhadap upaya penanggulangan degradasi lahan dan kekeringan di seluruh wilayah NKRI
  3. Menyerukan kepada setiap anggota legislatif yang terpilih dan siapapun yang akan mendapatkan amanah rakyat melalui pilpres 2009 agar mengawal dan memperhatikan lebih tajam lagi agenda nasional Indonesia menanam untuk menyelamatkan lingkungan dengan melibatkan sebesar-besarnya potensi dan peran serta masyarakat

Auditorium Thoyib Hadiwijaya IPB, Bogor

18 Juni 2009

FORUM HIJAU

Hutan Kota Solusi Jitu Transfer Informasi akan Pentingnya Menjaga Lingkungan

Selasa, 13 Juli 2010

Masyarakat dunia saat ini sudah sangat akrab dengan istilah “global warming”. Para pakar dengan berbagai latar belakang keilmuannya memberikan argumentasinya terkait dengan isu ini. Para pemikir dan pengambil kebijakan juga turut andil memikirkan solusi terbaik atas permasalahan ini. Sedikit penulis ingin memberikan sedikit pemikiran dengan berlandaskan berbagai referensi yang penulis baca.

Pemanasan global dapat diartikan sebagai peningkatan suhu udara di permukaan bumi dan di lautan. Para peneliti mengatakan bahwa peningkatan suhu ini dimulai sejak abad ke-20 dan diprediksikan akan terus mengalami peningkatan. Fenomena ini disebut ’pemanasan global’. Namun sebagian besar ilmuwan menggunakan istilah perubahan iklim, dengan alasan bahwa yang terjadi sekarang ini tidak hanya persoalan bertambah panasnya suhu udara, tetapi juga terjadinya perubahan iklim yang sangat signifikan dan tak terduga-duga.

Apapun istilah yang dipakai, yang jelas isu pemanasan global kini menjadi isu sentral dimana setiap umat manusia di atas bumi ini memiliki tanggung jawab untuk mengatasinya. Tidak ada manusia, atau kelompok, atau bangsa yang bisa mengatakan bahwa mereka tidak harus bertanggung jawab akan kerusakan alam sekarang ini, karena semua makhluk di atas bumi ini berada dalam satu ’rahim’ bumi. Tak terkecuali kita di Indonesia.

Indonesia menempati urutan ketiga dari tujuh negara yang disebut biodiversity country. Hutan Indonesia merupakan rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna, dan banyak diantaranya adalah endemik yang hanya dimiliki oleh bangsa ini. Namun ironisnya, penebangan hutan telah memperpanjang daftar jenis-jenis tersebut masuk dalam kategori kepunahan (endangered).

Hutan Indonesia juga merupakan hutan terbesar dan terkaya di Asia, namun berada dalam krisis yang sangat mengkhawatirkan. Setiap tahun lebih dari 2 juta hektar hutan rusak dan musnah. Jika dibandingkan dengan luas lapangan sepak bola, maka 300 lapangan musnah setiap tahun! Informasi resmi menunjukkan bahwa penebangan liar diduga telah mencapai 17-30 juta m3 per tahun. Jumlah ini ekuivalen dengan 400.000-800.000 ha hutan ditebang secara liar setiap tahun.

Beberapa LSM melaporkan bahwa penebangan liar sudah mencapai 52 persen dari total produksi kayu bulat yang bersumber pada hutan alam. Industri perkayuan diperkirakan mampu menerima pasokan kayu bulat sampai 80 juta m3 per tahun. Sedangkan hutan alam secara resmi hanya dapat memasok sekitar 29,5 juta m3 per tahun. Kekurangan yang besar dari pasokan resmi tersebut telah menciptakan celah terjadinya penebangan liar. Kerusakan hutan tidak hanya memusnahkan keanekaragaman hayati yang tidak akan tergantikan, tapi juga mengakibatkan meningkatnya pemanasan global. Sementara itu, sekitar 30 juta jiwa masyarakat Indonesia sangat menggantungkan hidup kepada sumber daya hutan.

Hutan Kota

Sesungguhnya, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi penebangan liar. Mulai dari mengeluarkan berbagai kebijakan dalam bentuk Undang-Undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) sampai pada ’pengerahan’ berbagai organisasi atau kelompok-kelompok pencinta lingkungan untuk melibatkan masyarakat agar aktif terlibat dalam penyelamatan lingkungan. Hasilnya pun tidak terlalu mengecewakan sebetulnya, dimana kita dapat melihat banyaknya kasus-kasus penebangan liar yang berhasil diseret ke pengadilan. Penghijauan kembali kawasan hutan yang telah “tergunduli” pun giat dilakukan, terutama dengan adanya kebijakan Indonesia Menanam yang dicanangkan oleh pemerintah.

Masalahnya, semua upaya tersebut jelas belum optimal dan terpadu. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan jumlah kerusakan yang telah terjadi dan upaya perbaikan yang telah dilakukan, akankah kita mampu mengendalikan kerusakan hutan dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan? Dan salah satu upaya jitu yang coba ditempuh pemerintah adalah dengan ide pengembangan hutan kota.

Hutan kota adalah suatu lahan yang bertumbuhkan pohon-pohon di dalam wilayah perkotaan, pada tanah negara yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan dalam pengaturan tata air, udara, habitat flora dan fauna yang memiliki nilai estetika dengan luas yang solid 0,4 hektar merupakan ruang terbuka hijau, pohon-pohon serta areal tersebut ditetapkan pejabat yang berwenang sebagai Hutan Kota. (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Departemen Kehutanan, 2002).

Menurut penulis, hutan kota sangat strategis menjadi fokus utama pemerintah dan masyarakat, karena ide ini lebih membumi dan manfaatnya langsung dirasakan. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia sesungguhnya berada di perkotaan. Tanpa mengabaikan pentingnya melestarikan hutan-hutan asli, hutan kota lebih mudah disosialisasikan pemanfaatannya pada masyarakat luas. Apalagi bila dapat diterjemahkan secara jelas valuasi ekonomi dari hutan kota tersebut.

Jika kita berbicara tentang hutan yang sebenarnya, dapat dipastikan bahwa sebagian besar masyarakat akan menganggap bahwa itu bukan persoalan mereka. Masyarakat Indonesia secara tidak kasat mata memiliki karakter ’tidak terlalu perduli’ dengan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya. Itu sebabnya banyak kegagalan ditemui ketika kita berbicara mengenai pentingnya melestarikan hutan. Hutan, bagi sebagian masyarakat Indonesia bukanlah tanggung jawab mereka, sekalipun disadari bahwa banyak komponen kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil hutan.

Hutan kota menjadi salah satu pilihan jitu menyelamatkan lingkungan karena beberapa hal:

1) Menciptakan kesejukan dan kenyamanan, karena dalam hutan kota terjadi proses fotosintesis yang mengubah CO2 di udara menjadi O2 dan H2O. Kemampuan tanaman dalam mengkonsumsi CO2 tersebut menurut Grey dan Deneke (dalam ’Urban Forestry’, 1998) setiap satu jam, satu hektar daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2, jumlah CO2 tersebut equivalen dengan jumlah CO2 yang dihembuskan oleh sekitar 200 orang dalam waktu yang sama pada saat bernafas.

2) Hutan kota berfungsi menjaga kesuburan tanah, karena partikel tanah pada hutan kota mengandung koloid tanah yang lebih baik dibanding tanah perkotaan. Koloid tersebut bermuatan positif sehingga mampu mempertahankan unsur hara yang ada dan melepaskannya sesuai dengan kebutuhan tanaman. Keberadaan unsur hara pada koloid tanah bersifat fleksibel, artinya dapat dipertukarkan dengan unsur hara sejenis yang lebih baik bila unsur hara yang ada sudah tidak memenuhi syarat lagi. Dengan demikian tanaman akan terus mendapatkan unsur hara yang terbaik untuk kebutuhannya (Mudyarso dan Suharsono, dalam ’Peranan Hutan Kota dalam Pengendalian Iklim Kota’, 1992).

3) Hutan kota berfungsi sebagai penyaring bagi bahan pencemar, karena partikel tanah yang mengandung koloid (dari bahan organik) mengandung ion-ion yang mampu menyerap logam berat atau bahan beracun lainnya yang terkandung dalam air. Pada hutan kota, koloid tanah yang ada akan mampu mengikat logam berat yang tercampur dalam air hujan seperti Cu dan Mg sehingga air yang masuk ke dalam tanah yang diserap oleh akar relatif berkurang banyak kandungan logam beratnya.

4) Hutan kota dapat mempertinggi daya resapan air dan menyimpannya di dalam tanah untuk kemudian dapat dipergunakan lagi sehingga terjadi siklus hidrologis.

5) Hutan kota juga berperan penting dalam konservasi tanah melalui pencegahan erosi. Erosi umumnya terjadi karena adanya aliran permukaan (run off) dari air hujan yang membawa partikel-partikel tanah dan bahan organik tanah sehingga tanah menjadi tandus. Pada areal hutan kota, run off tersebut tidak terjadi karena : adanya tumbuhan yang cukup rapat, adanya sistem perakaran, dan adanya bahan organik pada koloid tanah. Konsep hutan kota terbukti banyak berhasil mengatasi berbagai kerusakan lingkungan di negara lain.

Kehutanan Perkotaan (urban forestry) bahkan menjadi suatu cabang ilmu sejak disadarinya bahwa sangat penting mempelajari lingkungan, khususnya pohon, baik mengenai budidayanya, pengelolaannya, maupun fungsi dan kegunaannya secara phisiologik, sosial dan ekonomi terhadap masyarakat perkotaan.

Masalah utama yang dihadapi dalam pembangunan hutan kota berkaitan dengan ketersediaan lahan, dan masalah tata ruang kota. Masalah ketersediaan lahan untuk hutan kota, serta bagaimana mengefektifkan pemanfaatan lahan yang bersih merupakan kunci dalam pembangunan hutan kota. Semakin hari lahan semakin berharga dan semakin mahal, semakin sedikit untuk hutan kota, sehingga sering terjadi perebutan kepentingan dalam penggunaan lahan dari berbagai sektor aktifitas kota.

Ironisnya, pembangunan gedung-gedung untuk mal dan tempat sejenis justru sangat marak di setiap daerah. Terlihat sekali betapa mudahnya para pengembang mendapatkan ijin membangun gedung pencakar langit untuk mal atau town square, namun sebaliknya dengan hutan kota. Di sisi lain, tidak ada sanksi bagi pemerintah daerah yang tidak mengembangkan hutan kota.
Fakta ini jelas menunjukkan bahwa komitmen pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang makin parah masih patut dipertanyakan.

Masalah lain adalah kesadaran dan tanggungjawab masyarakat yang masih minim tentang perlunya menjaga lingkungan, mulai dari lingkungan rumah sampai pada lingkungan yang lebih luas. Masyarakat kita masih menganggap bahwa persoalan lingkungan adalah persoalan dan tanggungjawab pemerintah semata. Lihat saja ketika suatu bencana terjadi, misalnya banjir. Sebagian besar masyarakat masih terus menimpakan kesalahan total pada pemerintah yang tidak perduli pada nasib mereka, tanpa menyadari bahwa perilaku hidup sehari-hari mereka juga berpotensi menyebabkan bencana, seperti membuang sampah di kali atau menebang pohon-pohon di sekitar perumahan.

Hutan kota, jelas merupakan salah satu solusi jitu mencegah kerusakan lingkungan. Namun konsep ini juga tidak akan terwujud jika tidak dibarengi dengan komitmen dan upaya-upaya yang bersifat holistik dari berbagai pihak. Beberapa fokus kebijakan yang dapat ditempuh adalah :

1) Meningkatkan kesadaran masyarakat luas tentang bahaya kehancuran hutan bagi kehidupan. Strategi paling mendasar secara formal adalah dengan mengintegrasikan program tersebut dengan kurikulum pendidikan mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Sedangkan upaya informal adalah dengan memberdayakan kelompok-kelompok komunitas melalui penyuluhan-penyuluhan, sosialisasi, dan pelatihan-pelatihan. Perlu disadari bahwa untuk masyarakat Indonesia, kelompok-kelompok komunitas sangat berpengaruh dan lebih mudah didekati secara informal daripada melalui pendekatan bersifat politis.

2) Menciptakan keterkaitan pasar untuk memerangi penebangan liar. Hal ini dapat ditempuh dengan menutup atau menghilangkan pasaran bagi kayu ilegal. Kebijakan tentang pembangunan terminal kayu sepertinya sepertinya juga efektif mengatasi pasaran kayu illegal.

3) Mengurangi investasi di perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penebangan ilegal di Indonesia. Sekalipun akan berdampak pada sektor lapangan kerja dan perekonomian sebagian masyarakat, namun pilihan ini harus ditempuh demi kepentingan jangka panjang.

4) Memberi sanksi berat semua pihak yang terkait dengan penebangan liar dan pengrusakan lingkungan dan memberikan insentif bagi masyarakat atau pihak-pihak yang terbukti secara aktif terjun dalam pelestarian hutan.

5) Memberikan sanksi berat bagi pemerintah daerah yang tidak mengembangkan hutan kota di daerah masing-masing. Sanksi ini dapat berupa hukuman badan atau pemotongan PAD daerah oleh pemerintah pusat untuk keperluan pelestarian hutan.

6) Penerapan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan dalam sektor industri dan bidang lain.

7) Memberdayakan segala kemudahan yang diberikan teknologi untuk mensosialisasikan betapa berharganya hutan bagi kehidupan. Program televisi ataupun iklan-iklan layanan masyarakat perlu terus ditingkatkan yang berkaitan dengan pentingnya pelestarian hutan.

8) Kebijakan Indonesia Menanam perlu terus dikembangkan, namun sayapnya yang perlu diperlebar dengan memasukkan pembangunan hutan kota dalam program-programnya.

Upaya apapun, hanya akan berhasil jika diiringi dengan komitmen yang sungguh-sungguh. Goodwill dan tindakan pemerintah yang tepat, serta keterlibatan masyarakat dalam menangani kerusakan lingkungan sangat dirindukan alam itu sendiri demi kemaslahatan hidup umat manusia. Seluruh komponen masyarakat perlu diingatkan bahwa hutan adalah ’rumah’ yang nyaman yang tidak pernah kehabisan sumber daya bagi kehidupan manusia, jika dilestarikan. Lestari alamku lestari hutanku. SALAM KONSERVASI(*disadur dari berbagai sumber)

13 Pelanggaran PILGUB Bengkulu ke Gakkumdu

Senin, 12 Juli 2010

Anggota Panwaslu Provinsi Bengkulu, Ir Wismalindarita, MP mengatakan, dari beberapa temuan dan laporan yang masuk ke Panwaslu provinsi, ada 13 pelanggaran yang memenuhi syarat untuk dapat diteruskan ke Gakkumdu. Dari temuan tersebut diketahui bahwa pasangan calon nomor urut 1, Agusrin – Junaidi paling banyak dugaan pelanggarannya, mencapai 11 kasus. Dua lainnya, masing-masing 1 kasus pasangan Rosihan Arsyad-Rudi Irawan dan pasangan Sudoto – Ibrahim Saragih.

Adapun 11 dugaan pelanggaran pidana Pemilukada Bengkulu yang dilakukan Agusrin-Junaidi antara lain pembagian handtractor pada saat kampanye, melanggar pasal 82 dan 117 UU Nomor 32 Tahun 2004 Jo UU Nomor 12 Tahun 2008, pembagian kompor gas LPG melanggar pasal 82 UU Nomor 32 Jo UU Nomor 12 Tahun 2008. Hal ini juga bertentangan dengan Surat Edaran Mendagri tentang larangan pejabat incumbent membagikan bantuan dengan anggaran APBD/APBN ketika sedang dan tidak kampanye, penggunaan fasilitas negara, kampanye di luar jadwal.

“Kampanye simpatik dalam bentuk pawai motor diduga telah melakukan pelanggaran tindak pidana Pemilukada UU Nomo 32 tahun 2004 Pasal 78 huuf f. Dan di Rejang Lebong pada tanggal 18 Juni, pembagian handtractor, uang dan kaos yang bertanda gambar paslon. Pebagian baju pasangan calon dilakukan sebanyak 2 kali. Dan dikepahiang H-1 membagikan selembaran dan kompor gas kepada kordes,” papar Rita.

Selanjutnya masih pasangan nomor urut 1, di Curup Selatan pada 18 Juni kampanye terselubung dengan pembagian handtractor disertai dengan pemabagian uang dan atribut kampanye paslon. Pada 21 Juni di Kampung Melayu Kota Bengkulu, juga melakukan hal yang sama yakni melakukan kampanye terselubung pembagian handtractor disertai dengan pemabagian uang dan atribut kempanye pasangan calon. “Di Dwi Tunggal Kabupaten RL pada tanggal 18 Juni 2010 yakni melakukan pembagian sembako,” ucap Rita.

Sedangkan pasangan calon nomor urut 4, Sudoto-Ibrahim Saragih pada 23 Juni di Rejang Lebong melakukkan kampanye acara pertemuan pada pukul 19.00 WIB s/d 21.00 WIB atau dilakukan di malam hari. Begitu juga dengan pasangan calon nomor urut 5, Rosihan Arsyad-Rudi Irawan di RL pada 27 Juni melakukan kampanye diluar jadwal.

“Ketika sampai di Gakkumdu tinggal penyidik yang akan melakukan pengutan bukti terkait dugaan pelanggaran pidana Pemilukada itu,” ucap Rita.

Agusrin-Junaidi Tetap Tertinggi

Sementara itu, kemenangan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Agusrin M Najamudin-Junaidi Hamsyah sudah di mata. Berdasarkan rapat pleno rekapitulasi di 10 Kabupten/Kota yang dituntaskan tadi malam (10/6) Pasangan calon yang diusung oleh Demokrat dan PAN mampu meninggalkan 4 pasang calon lain.

Bagaimana hasilnya? berdasarkan rapat pleno di 10 Kabupaten/Kota dari total 848.815 suara pasangan Agusrin Junaidi mampu meraup suara sebanyak 266.546 suara atau 31,43 persen. Di posisi kedua ditempati pasangan calon Imron Rosyadi-Rosian Yudi Trivianto (Iman) dengan perolehan 204.253 suara atau 24,08 persen. Diikuti oleh pasangan calon Sudirman Ail-Dani Hamdani dengan meraup 176.009 suara atau 20,75 suara atau 20,75 persen yang disusul oleh pasangan nnomor urut 5, Rosihan Arsyad-Rudi Irawan dengan 14,48 suara. Sedangan pasangan Sudoto-Ibarahim Saragih hanya menempati possisi kelima dengan meraup 78.472 suara atau 9, 25 persen.

Jumat (9/7), dua KPU kabupaten yang belum melakukan pleno rekapitulasi suara yakni Kaur dan Seluma, akhirnya tuntas. Di Kaur sebagaimana hasil pleno KPU,

Agusrin-Junaidi menang Telak dengan meraup 18.533 suara. Sedangkan pasangan Iman yang disebut-sebut memiliki basis massa di Kaur hanya mampu meraup 10.894 suara, dan berada di posisi ketiga. Untuk posisi kedua ditempati pasangan calon Rosihan – Rudi dengan perolehan 15.654 suara. Keempat pasangan Sudirman Ail – Dani Hamdani memperoleh 10.034 suara. Terakhir Sudoto – Ibrahim Saragih, hanya mampu menghimpun 2864 suara.

Seluma, Mandan Menang Tipis

Untuk Seluma, pasangan Mandan mampu unggul suara dibandingkan pasangan calon dengan perolehan 36.061 suara. Jumlah suara Mandan menang tipis dari pasangan calon Agusrin-Junaidi meraup 35.043 suara atau hanya selisih sekitar 1.500 suara. Pasangan nomor urut 2, Iman dengan 13.802 suara yang disusul Sudoto-Ibarahim Saragih dengan 8.324 suara. Dan terkahir Rosihan-Rudi memperoleh 4759 suara.

Dari 14 kecamatan pasangan Mandan menguasai mampu menguasai 7 kecamatan. Masing-masing Kecamatan Sukaraja dengan meraup 5.773 suara, Seluma Barat dengan 3.611 suara, Seluma utara dengan 3.083 suara dan Talo dengan meraup 2.402 suara, Ilir Talo dengan mengantongi 2.800 suara. Sedangkan Agusrin-Junaidi juga unggul di 7 kecamatan. Masing masing Kecamatan Air Periukan memperoleh 3.671 suara, Seluma Barat dengan 1,811 suara, Seluma Timur meraup 2,280 suara, Seluma Selatan dengan 2.461 suara, Seluma Kota 2.040 suara, Talo Kecil 1.945 suara, Ulu Talo 1.382, Semidang Alas 2.633. Sedangkan Iman hanya mengusai 1 kecamatan yakni Semidang Alas Maras dengan meraup 3.724 suara.(ble)

Harimau di Ulu Talo Berhasil Ditangkap, Di Kaur Harimau Masuk Kampung

 
Senin, 12 Juli 2010 00:09:11   Kirim-kirim Print version
 
Data dihimpun RB, harimau tersebut sebesar anak sapi. Dia masuk perangkap diperkirakan pukul 05.05 WIB. Kerangkeng dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II sekitar tiga minggu lalu.

BKSDA memasang kerangkeng lantaran keberadaan harimau di Ulu Talo sudah sangat meresahkan masyarakat. Sudah pernah tidur di halaman rumah warga, makan ternak kambing dan ayam masyarakat. Sehingga warga tidak nyaman dengan seringnya muncul hewan buas tersebut. Saking dekatnya dengan rumah warga ada yang sempat membuat video harimau tersebut.

Pemuka pemuda Ulu Talo, Medi Harjo, yang turut melihat harimau yang sudah dalam karangkeng, mengatakan kalau harimau tersebut masih marah. Dengan terus berontak dalam kerangkeng tersebut. Baru agak diam kalau dikasih makanan, seperti ayam.

Beberapa warga mengabadikan harimau yang sudah tertangkap tersebut ke dalam Hp-nya. Ada yang mengambil potonya saja. Ada juga yang sampai buat videonya. Hingga sore kemarin, harimau tersebut masih menjadi tontotan warga Mekar Jaya dan sekitar.

‘’Masyarakat sangat berterima kasih dengan BKSDA yang telah memasang kerangkeng. Sehingga harimau yang selama ini meresahkan dan membuat warga sudah nyaman. Dengan telah tertangkapnya harimau ini, mudah-mudahan warga bisa beraktivitas tanpa dirasuki perasaan was-was dan takut,’’ katanya.

Sementara hingga Sabtu sore kemarin belum didapat konfirmasi dari pihak BKSDA. Beberapa kali nomor HP Kepala BKSDA Seksi Wilayah II Jaja, S.Sos dihubungi, dalam keadaan tidak aktif. Sehingga belum diperoleh keterangan dari BKSDA.

Lain lagi di Padang Leban Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur. Warga di desa tersebut saat ini diselimuti rasa takut. Pasalnya, warga melihat seekor harimau berkulit putih sebesar anak sapi masuk desa. Si raja hutan itu berkeliaran di belakang rumah seorang warga bernama Ridwan (30). Sampai Sabtu kemarin warga desa masih ketakutan.

Sekretaris Desa (Sekdes) Padang Leban, Septi Herwan mengatakan, beberapa hari terakhir warganya yang ingin pergi ke kebun merasa khawatir karena harimau itu muncul lagi. Yang membikin warga makin takut, ada warga yang melihat langsung kalau si raja hutan itu berkeliaran di belakang rumah warga.

Dan ingin membuktikan cerita itu, warga mencoba menelusuri degan mengikuti jejak kakinya. Dan benar adanya. Bahkan begitu melihat ada jejak kaki si raja hutan itu warga langsung lari ketakutan. Menyikapi temuan hariamu ini, kini perangkat desa terus menelusuri pinggiran desa dengan cara melepas beberapa ekor anjing untuk memburu si raja hutan itu.

‘’Penemuan harimau ini sangat menakutkan warga. Karena belum pernah harimau masuk desa. Kami juga heran apa maksud dan tujuan munculnya harimau itu. Karena hewan ternak seperti kambing, sapi dan anjing pun tak ada yang dimangsanya. Namun biasanya munculnya harimau putih yang dikenal sunggutan itu, diperkirakan akan terjadi sesuatu hal yang diluar dugaan oleh masyarakat. Bisa akan ada bencana atau ada kejadian lainnya,’’ ujar Septi Herwan.

Camat Tanjung Kemuning Gunawan Ishak, S.Sos, mengimbau agar warga untuk berhati-hati. Karena jangan sampai binatang buas itu memangsa manusia. Untuk warga yang sering pergi ke kebun atau ke hutan juga harus hati-hati. Karena dikhawatirkan harimau yang muncul itu belum begitu jauh perginya.

‘’Laporan yang saya terima, harimau itu muncul saat hari pencoblosan Pemilukada (Sabtu 3/7-red.) lalu. Tapi warga sampai sekarang masih ketakutan. Kalau melihat jejak kakinya harimau cukup besar,’’ tegas Gunawan.(sip/che)

Adakah Sejumput Empati Buat Mereka….

Adakah sejumput empati buat mereka

Cipt : Arhamin

Susuri hidup ini…

Dengan sgala kelemahannya

Siapa kan peduli…

Akan sgala perjalanannya

Seakan tak pernah lekang semangat itu

Bergerak menembus gelap

Seakan tak ada resah menerpanya

Bersabar hadapi ujian Tuhan

Adakah sejumput empati buat mereka

Sedikit berbagi akan kelebihan kita

Hanya sekedar ukir senyuman indah

Di wajah lusuh mereka

Adakah sejumput empati buat mereka

Sedikit melepaskan keangkuhan kita

Hanya sekedar usir segala resah

Yang Menerpa jiwa mereka

*Sebuah karya yang didedikasikan untuk anak-anak jalanan yang berjuang demi hidupnya dengan tetap menjunjung tinggi kejujuran dan nilai-nilai kebaikan…